Rabu, 11 Mei 2016

Pelangi dari Aisyah

Abi ku adalah Habaib dari garis keturunan Ali Shahab. Abi memberiku nama yang indah Syifa yang berarti obat penawar, Fatimatul yang berasal dari kata Fatimah yang merupakan anak dari Rasulullah sekaligus mujahid islam yang tangguh, dan Shahab yang merupakan nama keturunan atau biasa disebut marga. Kalian sudah tau namaku bukan? Ya Syifa Fatimatul Shahab. Kata abi namaku dibuat indah agar aku menjadi wanita yang indah dan mampu menjadi penawar kesusahan orang lain. Kata abi aku termasuk orang yang cantik. Aku buta sejak lahir, jadi aku tidak bisa membuktikan kebenaran kata abi. Sepertinya aku terlalu banyak bercerita tentang Abiku.
Tess,, tess,,
Entah mengapa air mataku selalu meleleh ketika ziarah ke makam abi, padahal kecelakaan yang menewaskan abiku itu sudah terjadi 3 tahun yang lalu dan aku selalu ziarah setiap minggu sekedar untuk mengganti bunga di makam abi.
“Syifa, ayo pulang sayang” ucap umiku sambil mengusap air mataku.
“Iya Umi” jawabku sambil tersenyum dan menggandeng tangan umi.
 
***
 
“Syifa, ini teman umi namanya Om Irsyad dan ini Aisyah sama Anisha. Aisyah 13 tahun, masih seumuran sama kamu kan? kalo Anisha masih 4 tahun”
“Halo Syifa, kenalin aku Aisyah Hamid”
Aku hanya membalasnya dengan tersenyum, meski aku tidak bisa melihat wajahnya tapi aku bisa merasakan kalau gadis didepanku ini adalah gadis yang cantik.
“Syifa, Aisyah kalian udah cukup besar menurut kami, kami ingin meminta izin pada kalian untuk menikah bolehkah?” ucap Om Irsyad membuatku sedikit shock karena aku merasa baru kemarin abi wafat.
“Aisyah gakmau abi, aisyah ntar dihina sama temen-temen, aisyah gakmau saudaraan sama cewek buta”
Degg… jantungku serasa berhenti berdetak. Baru kali ini aku merasa sakit hati dihina seperti itu, tapi aku bisa apa? Aisyah benar aku hanya gadis buta.
“Aisyah, kamu bilang apa sih? Kamu gak boleh begitu sama Syifa” bentak Om Irsyad
“Jadi abi lebih bela cewek buta ini? Ais benci sama abi”
Brakk…
Tess.. tess..
“Umiii, Syifa pengen ke makam Abi” lirihku pada umi.
“Iya sayang, mas maaf aku permisi yah, maaf buat segalanya” ucap umi sambil menggandeng tanganku menjauh.
 
***
 
“Umi, Syifa pengen sendiri dulu disini, bisa?” ucapku lirih, sepertinya umi memahami maksud ucapanku karena aku mendengar langkah umi yang menjauh dariku.
“Abi, Syifa harus gimana? Syifa gakmau saudaraan sama Aisyah. Syifa bisa nerima Om Irsyad buat gantiin Abi. Tapi Syifa sakit abi, Syifa sakit denger omongan Aisyah tadi. Syifa harus gimana? Abi, Demi Allah Syifa pengen liat umi bahagia, meski Syifa gak tau gimana wajah umi” isakku diatas nisan Abi. Hijab yang kukenakan juga menjadi basah karenanya.
 
***
 
Sore itu aku mendengarkan sholawat dari laptop yang dihidupkan umi tadi.
“Al – Munsyidin kan?” sapa suara yang sepertinya kukenali itu.
“Iya, judulnya Ya Asyiqol Mustofa” balasku sambil tersenyum kecil.
“Hei, aku mau minta maaf ya soal kemarin” ucapnya lirih.
“Memangnya kemarin kenapa?” sahutku karena aku memang tidak mengetahui siapa dia.
“Sudahlah, mau nemenin aku ke suatu tempat gak?” tawarnya.
“makasih tapi aku harus nungguin umi pulang” tolakku halus.
“Gakpapa aku tadi udah izin sama tante kok buat ngajak kamu pergi”.
“Iyadeh, tapi kita mau kemana?”.
“Ke suatu tempat yang kamu pasti suka”
 
***
 
Wangi mawar langsung memenuhi penciumanku begitu aku melangkahkan kakiku ditempat ini. Meski aku belum mengetahui siapa orang yang membawaku itu entah mengapa aku merasa bahwa dia adalah orang baik. Dia membimbingku untuk duduk di sebuah bangku.
“kamu tau gak, ini tempat favorit aku loh” ucapnya menyadarkanku dari alam lamunanku
“Oh ya? Emangnya ini dimana?”balasku bingung
“Bukit Pelangi” singkatnya
“Hah? Bukit Pelangi itu dimana?”ucapku bingung dan takut.
“Di Kaliwungu, gak ada orang yang ngurus tempat ini. Jadi aku minta ke abi buat beli tempat ini 3 tahun lalu. Gak besar sih tapi kita bisa liat pelangi dari sini, makanya aku namain tempat ini Bukit Pelangi”
“Oh, berapa jumlah mawar disini? kenapa bau mawar kerasa banget?”
“Aku gak ngitung ada berapa mawar disini Fa, dulu cuma ada 10 mawar. Dari Jenis mawar merah, merah hati, putih, pink, orange, pastel. Tapi kayaknya sekarang udah jadi kebun mawar sih, dimana-mana ada mawar soalnya”
“Pasti tempat ini indah ya. Tapi kamu ini siapa?”
“Aisyah Hamid. Wanita yang kemarin menghinamu di Restaurant” ucapnya membuatku sedikit gemetar.
“Aisyah, kenapa kamu sedih?” tanyaku begitu menyadari perbedaan nada suara yang kudengar.
“Siapa yang sedih sih, ngaco deh” elaknya.
Hening….
“Syifa, aku mau abiku dan umimu menikah. Apa kamu setuju? Aku juga mau minta maaf soal kata-kataku kemarin yang terkesan frontal. Aku menyesal”
“Kenapa tiba-tiba? Tapi tak apa aku juga mau begitu, aku mau umi bahagia” ucapku sambil tersenyum.
“Syifa kamu tau gak sekarang ada pelangi. Disini, di depan kamu. Aku pengen suatu saat bisa liat pelangi disini bareng kamu” ucap Aisyah sambil menyenderkan kepalanya kebahuku.
“Aku juga. Pelangi itu seperti apa Aisyah?”
“Pelangi itu indah. Penuh warna. Kamu tau gak kalo bukit pelangi ini ada di dekat jurang? Mawar-mawar yang baunya kamu cium itu ada di tepi jurang?”
“Kamu gak lagi nyoba buat dorong aku kejurangkan ais?” gurauku dan disambut tawa renyahnya. Entah apa yang wanita itu pikirkan tapi aku merasa kepribadiannya berubah 180 derajat dengan yang kemarin kutemui. Tapi kurasa aku menyukai aisyah yang sekarang.
“Aku gak sejahat itu kali hehe”
Kamipun banyak bercerita dan tertawa sore itu. Aku merasa Aisyah tidaklah terlalu buruk dan sepertinya aku mulai merasa nyaman dengannya. Sekarang aku tidak keberatan bila harus bersaudara dengannya.
 
***
 
“Syifa, ayo ke rumah sakit sayang” ucap umiku mengagetkanku yang tengah melamun.
“untuk apa umi? Siapa yang sakit?”.
“Aisyah”.
“hah? Aisyah kemarin baru main sama syifa kok umi” ucapku tak percaya.
“Sudahlah ayo kerumah sakit, om irsyad sudah nunggu” balas umiku lesu.
Aku dapat merasakan nada kesedihan dibalik kata-kata umiku barusan. Selama perjalanan ke rumah sakit aku hanya diam mendengar gerimis yang turun, karena aku tau umiku sedang sedih jadi tidak mungkin aku bercerita banyak padanya. Tak terasa 15 menit perjalanan akhirnya aku dan umi sampai di rumah sakit. Kurasakan umi menarik tanganku hingga kesuatu ruangan, disana kudengar suara Aisyah, Anisha dan Om Irsyad tentu saja. Kurasakan aisyah menggenggam jemari tanganku.
“Ingin melihat pelangi berdua?” ajaknya
“Tidak Aisyah, bukannya kamu sakit? Ditambah sekarang gerimis aku takut kamu ntar tambah parah” tolakku secara halus agar tak melukai perasaannya.
“Aku tak apa, percaya deh. Abi boleh ya?”
“Baiklah, anak abi mau kemana?” tawar om irsyad mesra pada aisyah.
Abi juga sering memperlakukanku seperti itu, tapi itu dulu sebelum kecelakaan maut itu mengambil setengah dari bagian hatiku.
 “Ais mau ke bukit pelangi abi”
“yaudah yuk kita kesana muah” ucap suara om irsyad sambil mengecup kening Aisyah.
 
***
 
Di Bukit Pelangi aku dan Aisyah duduk di bangku taman yang dulu, sedangkan umi dan om irsyad mengamati kami dari kejauhan. Aku merasa tidak enak sebenarnya tapi mau bagaimana lagi, Ais hanya ingin berbicara 4 mata denganku.
“Syifa, pelanginya indah”. Kudengar suara parau aisyah.
“suatu saat nanti kamu pasti bisa melihat pelangi fa, tapi mungkin gak sama aku. Hiks” lanjut aisyah kemudian menangis.
“Sssttt, kamu ngomong apa sih Ais? Aku pengen liat pelangi, dari sini bareng sama kamu” ucapku menghibur ais.
“Syifa, kamu mau gak ngerawat tempat ini kalo aku udah meninggal nanti?”.
“Ais gak boleh ngomong gitu, ais pasti sembuh. Semua penyakit itu ada obatnya”.
“Syifa maafin aku ya, dulu aku udah jahat banget sama kamu. Tapi kamu? Kamu baik banget sama aku. aku mau kalo aku meninggal nanti aku dimakamin disini. Di Bukit Pelangi, aku juga mau kamu yang ngerawat tempat ini. Aku pengen kamu selalu liat pelangi dari sini, dan aku pengen kamu gak nangis waktu aku meninggal nanti” ucap Ais sambil menyandarkan kepalanya ke bahuku.
Air mataku menetes mendengar penuturan Aisyah.
“Aahhh, sakit syifa. Sakit hiks hiks” ucap Aisyah membuatku terkejut.
“Aisyah kamu kenapa? Ais? Abi Umi tolongin Aisyah” teriakku.
Kudengar langkah kaki mendekat dan Om Irsyad pun membawa Aisyah ke mobil.
 
***
 
Hari ini aku melihat pelangi dari bukit pelangi. Ah ya Aisyah lah yang telah memberikanku pelangi ini. Sekarang aku dapat melihat tempat ini, aku jugalah yang merawat tempat ini. Tiap hari aku selalu kesini. kubuka surat yang ditulis aisyah untukku. Kubaca perlahan…
 
Dear Syifa Fatimatul Shahab
 
Assalamualaikum Ukhti Syifa, sehat kan? Syifa sewaktu kamu baca surat ini mungkin kamu udah gak bisa liat aku lagi. Aku seneng bisa kenal sama kamu walau cuma bentar. Maafin aku yah yang mungkin pernah nyakitin kamu.
Syifa apa kabar bukit pelangi? Musim hujan begini pasti banyak yah pelangi. Syifa jangan mengganti jenis bunga di bukit pelangi yah. Aku sengaja cuma milih bunga mawar, karena mawar itu cantik tapi berduri. Mawar itu melambangkan sosok wanita dan duri itu melambangkan aturan tuhan yang harus ditaati setiap wanita. Seperti duri pada mawar yang dianggap jelek oleh sebagian orang begitu juga aturan tuhan yang sering disepelekan oleh wanita. Berapa banyak wanita yang meninggalkan hijabnya diluar sana Syifa? Ratusan atau ribuan? Hijab itu serupa dengan duri mawar, melindungi namun dianggap jelek. Kamu tahu syifa kenapa aku menanam mawar mawar itu ditepi jurang? Sudah kubilang bukan bahwa mawar itu menggambarkan wanita? Aku tidak menanam mawar itu ditengah taman yang engkau duduki saat ini karena aku tidak ingin ada orang yang dengan gampangnya memetik mawar itu. Perlu keberanian dan keseriusan untuk memetiknya bila ia ditanam ditepi jurang. Jadi aku mau kamu syifa juga menjadi seperti mawar itu yang akan dipetik orang yang tepat pada saatnya nanti.
Syifa mungkin kamu bingung kenapa aku tiba-tiba jadi baik saat itu. Demi allah syifa aku tidak punya niatan buruk denganmu. Demi allah aku tidak pernah ingin mengejekmu buta karena akupun punya banyak kekurangan. Sore itu aku ziarah ke makam umi kandungku dan aku melihatmu menangis disamping sebuah nisan. Aku sakit syifa aku sakit saat melihatmu menangis karena aku, saat itulah aku bertekad untuk menerima umi mu menjadi umi baruku. Sejak saat itu pula aku berjanji akan baik kepadamu. Namun cobaan itu datang, sakit yang kukira sudah sembuh 8 bulan yang lalu datang lagi. Dan aku tidak siap namun bila itu yang tuhan mau aku jalani akan aku lakukan syifa. Syifa tepat saat aku melihatmu menangis karena aku, aku merasa kepalaku sakit, sangat sakit dan aku merasa duniaku menjadi gelap.
Dengan segenap tenagaku yang tersisa kupaksakan untuk menulis surat ini, berat syifa. Tanganku sulit untuk digerakan tapi aku akan berusaha menjawab rasa penasaranmu. Aku sangat yakin kau penasaran dengan yang aku alami, tapi kamu tidak berani bertanya. 2 hari setelah aku melihatmu di makam sakitku menjadi parah, kanker yang semula hanya stadium satu mendadak menjadi stadium 4. Sakit syifa, 8 bulan yang lalu sudah kutelan banyak obat yang merontokan rambutku. Ya aku sembuh saat itu dan kambuh lagi saat aku mendengarmu menangis dimakam abimu.
Maafkan aku syifa. Dan jangan menangis yah. Tolong jaga abi dan juga anisha, mereka berharga buatku, sangat berharga. Aku titip mereka yah.
Wassalam. Aisyah Hamid